Kita Semua Adalah Tempayan Rusak

Posted: February 28, 2011 in Gospel
Tags:

Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar. masing-masing bergantung pada kedua ujuang sebuah pikulan yang dipikulnya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang lainnya tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh sepanjang perjalanan, maka sebaliknya, tempayan yang retak itu hanya mampu membawa setengah penuh, karena sisanya tercecer di jalan.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya, dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat ia berikan.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu”. “Kenapa?”, tanya si tukang air, “kenapa kamu merasa malu?”

“Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi dari air yang seharusnya saya bawa, karena adanya keretakan pada sisi saya, sehingga membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena kecacadku itu, saya telah membuatmu rugi”, kata tempayan retak itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan”.

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya tetap bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain, yang tidak retak itu?” Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air tersebut, kamulah yang mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu SEBAGAIMANA KAMU ADA, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang”.

Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalam tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan Yesus akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias “meja Bapa-Nya”. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma.

Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana yang indah di tangan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita, asal kita datang kepada YESUS.

Setting:
Si tukang air : Yesus Kristus
Tempayan : Manusia
Majikan : Bapa di sorga
Jalan : Tempat dimana kita sering berada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s